Sunday, November 4, 2012

Penamaan Aliran Filsafat

Refleksi Filsafat Pendidikan Matematika #Pertemuan 3
Penamaan Aliran Filsafat
Kita telah mengenal ada banyak sekali aliran-aliran filsafat yang muncul dan berkembang di muka bumi ini. muai dari zaman Yunani Kuno hingga zaman modern seperti sekarang ini. Filsafat dapat diberi nama berdasarkan hal-hal apa saja yang berkaitan dengannya, mulai dari objek pembicaraan, tokoh, sifat hingga aktivitasnya. Pertama, aliran filsafat diberi nama berdasarkan objeknya. Jika objek pembicaraan atau yang dibahas adalah mengenai benda-benda alam, maka filsafatnya adalah filsafat alam. Kedua, nama aliran filsafat diambil dari nama tokohnya. Misalnya hegelianisme yang menyatakan bahwa segala yang ada dan mungkin ada adalah sejarah. Ketiga, nama aliran filsafat juga dapat bergantung dari sifatnya. Misalnya, benda dalampikir bersifat ideal, maka filsafatnya adalah idealisme. Ideal itu tetap. Filsafatnya sama dengan Permenides. Pemikiran Plato sejalan dengan Permenides. Kita ambil analogi bilangan. Suatu bilangan itu tetap karena berada di dalam pikiran. Lain halnya jika bilangan itu sudah berada di luar pikiran. Jika bilangan itu sudah berada di luar pikiran, maka ia meliputi apa yang ada dan mungkin ada, sehingga bersifat plural. Sebagai contoh, angka 5. Lima  itu plural, karena meliputi lima yang tebal, lima yang tipis, lima yang besar dan lima yang kecil. Maka filsafatnya realisme, artinya real. Tokoh realisme adalah Aristotelian. Keempat, aliran filsafat dapat diberi nama berdasarkan aktivitasnya. Socrates, filsafatnya diperoleh dengan cara bertanya sehingga filsafatnya diberi nama dialektisisme.
Jika yang benar itu satu, maka filsafatnya monoisme. Hal ini berarti tidak lain dan tidak bukan yang benar itu satu, yaitu Tuhan. Tuhan itu monoism. Jika sudah berbicara dan masuk ke lingkup hati, maka yang benar itu satu. Lain halnya jika  yang benar itu banyak, maka lingkup pembicaraan mengarah ke dunia. Maka dunia itu banyak; pikiran itu banyak; sehingga banyak itu pluralisme. Jika yang benar itu pada dua kutub, misalnya boleh – tidak boleh, baik – buruk; masyarakat kita kurang terampil memberi penjelasan mengenai baik dan buruk.
Jika yang benar adalah menurutku, maka filsafatnya subjektivisme. Sedangkan apabila mengakui pendapat orang lain, maka filsafatnya adalah objektivisme. Namun semua penamaan aliran filsafat ini tidak semudah yang telah dikatakan, karena semuanya telah melalui abstraksi yang mahadahsyat dan mahahebat dengan memilih salah satu statement yang sangat singkat. Semua hal tersebut berkaitan dengan to determine yang artinya menentukan. Menentukan dengan luas seluas-luasnya dan dalam sedalam-dalamnya; oleh karena itu manusia tidak dapat lepas dari kegiatan to determine. Sebagai contoh, memakai baju. Nah, dalam memakai baju maka kita to determine terhadap baju, dalam hal ini kita menentukan nasib baju tersebut. Maka determine yang absolut adalah Tuhan. Manusia yang memiliki kebiasaan menentukan sifat termasuk determinism. Apa saja yang dilakukan manusia? Jawabannya adalah banyak hal. Mulai dari memindah, mengurangi, menghukum, dan lain lain. Tidak perlu terlalu jauh mengatakan politikus dan otoriter itu determinis. Bahkan melihat dan memikirkan suatu hal pun sudah termasuk tindakan yang determine. Determine itu sejalan dengan reduksi. Reduksi itu memilih. Maka kita terlahir dari rahim ibu siapa, itu telah terpilih dati Tuhan. Kita dapat mengatakan bahwa itu takdir. Kita tidak dapat memilih, tetapi terpilih. Maka determine dan reduksi itu adalah metode yang sangat ampuh tetapi sekaligus sangat berbahaya dan sangat merugikan. Analoginya, saat perkuliahan kita memandang dan menatap ke arah dosen. Maka kita kehilangan kesempatan untuk memandang yang lain. Kita sangat merugi karena yang lain memiliki hak yang sama untuk dipandang. Maka dari analogi tersebut kita bersifat reduksi dan determine sekaligus. Sangat berbahaya jika sifat determinis tersebut menutupi sifat yang lain, sehingga yang lain tidak berdaya. Oleh karena itu, maka di dalam suatu perkuliahan meskipun duduk mengitari dosen, tetapi dosen tidak berdiri. Dalam hal ini dosen duduk sama rendah dengan mahasiswanya, artinya memiliki hak yang sama dalam mencari kebenaran. Dalam berfilsafat, kita tidak dapat menggunakan metode yang instan. Filsafat itu hidup, maka gunakanlah metode hidup untuk mempelajarinya, yakni dengan bergaul, berinteraksi dan membaca terus-menerus.
Filsafatnya para dewa adalah transendentalism. Siapakah “dewa” yang dimaksud? Dewa itu diri kita. Dimana dimensinya setingkat lebih tinggi dari orang atu benda yang ada di bawahnya. Contoh sederhananya adalah saya memiliki adik. Maka saya adalah dewa bagi adik saya. Maka ilmu transenden. Jika saya korupsi, maka adik saya tidak mengerti. Yang dapat menangkap adalah ayah saya. Dalam kasus ini, ayah adalah dewa bagi saya. Contoh lain dari sifat transenden ini adalah ketika seseorang sedang mengajar, maka ia dewa bagi murid-muridnya. Saya dewa terhadap baju saya. Apapun yang saya lakukan terhadap baju saya, maka baju itu mengikuti.
Dalam filsafat, digunakan kata ‘dewa’, baik untuk menyebut diri sendiri maupun orang lain yang dimensinya lebih tinggi. Mengapa tidak menggunakan kata atau istilah lain? Sebab kata ‘dewa’ identik dengan ‘Tuhan’. Jawabannya karena ‘dewa’ adalah kata yang paling mewakili. Telah disebutkan sebelumnya bahwa filsafat itu menggunakan bahasa analog. Bahasa analog itu lebih tinggi dari sekedar bahasa kiasan. Itulah berbahayanya berfilsafat jika tidak ditempatkan pada konteksnya. Hal yang keliru adalah kecenderungan kita dalam membawa istilah-istilah itu ke luar. Karena sudah tidak kontekstual lagi. Maka berbahayalah orang berfilsafat secara parsial dan tidak kontekstual, setengah-setengah, sepenggal, tidak utuh. Filsafat itu refleksif bagi orang-orang dewasa dan orang-orang yang mampu memikirkannya. Artinya, walaupun sudah tua, belum tentu dewasa pemikirannya.

Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Matematika #pertemuan ke-2

ALIRAN – ALIRAN FILSAFAT, TOKOH DAN IDENYA
Oleh
Fitria Yelni (09301241040)
Pendidikan Matematika 2009

BAB I
PENDAHULUAN
Tradisi pemikiran Barat dan filsafat saat ini merupakan paradigma pengembangan budaya Barat dengan implikasi yang sangat luas hingga mencakup seluruh aspek kehidupan. Memahami dan menelusuri tradisi pemikiran budaya Barat dalam pandangan filsafat merupakan suatu apresiasi dan kearifan tersendiri, karena dengan begitu dapat dilacak segi positif dan negatif dari suatu tradisi pemikiran dimana kita dapat meniru segi positif dan tidak mengulangi segi negatifnya.
Filsafat dan Ilmu adalah dua kata yang saling berkaitan baik secara substansial maupun historis. Kelahiran suatu ilmu tidak dapat dipisahkan dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Perkembangan ilmu pengetahuan bahkan segala aspek dan lini kehidupan dewasa ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh aliran-aliran pemikiran filsafat barat. Tulisan ini akan membahas mengenai zaman-zaman perkembangan filsafat dengan berbagai macam aliran filsafat beserta para tokoh dan ide yang dituangkannya.
BAB II
PEMBAHASAN
Berikut ini adalah empat periodisasi filsafat didasarkan atas corak pemikiran yang dominan pada saat itu, dimana didalamnya terdapat beberapa aliran filsafat serta tokoh-tokoh yang berpengaruh di zamannya.
A.      Zaman Yunani Kuno
Pemikiran filsafat Barat ini muncul yang ditandai oleh runtuhnya dongeng-dongeng dan mite-mite yang dulunya menjadi pembenaran pada suatu gejala alam. Manusia pada waktu itu melalui mite-mite mencari keterangan tentang asal-usul alam semesta dan tentang kejadian yang berlangsung didalamnya. Ada 2 mite yang berkembang, yaitu kosmologis yang mencari asal-usul alam semesta, dan mite kosmologis yang mencari keterangan tentang asal-usul alam semesta serta sifat-sifatnya.
Adapun tokoh-tokoh yang berpengaruh pada zaman Yunani Kuno diantaranya adalah:
1.         Thales (640-550 SM) menyimpulkan bahwa air merupakan asal mula segala sesuatu, karena air meresapi seluruh benda di jagad raya ini. Thales lahir di Miletus. Ia diberi gelar sebagai bapak filsafat, karena Ia adalah orang yang mula-mula berfilsafat.Gelar itu diberikan kepada Thales, karena ia mengajukan pertanyaan tentang “Apa sebenarnya bahan alam semesta ini?’, padahal pertanyaan ini amatlah mendasar, dari pertanyaan ini saja ia dapat mengangkat namanya menjadi filosof pertama.
2.         Anaximander (611-545 SM) menyimpulkan bahwa asal mula dari segala sesuatu adalah apeiron, yaitu sesuatu yang tak terbatas. Anaximander menjelaskan bahwa substansi pertama itu bersifat kekal dan ada dengan sendirinya. Anaximenes mengatakan itu udara. Udara merupakan sumber segala kehidupan,demikian alasannya. Pembicaraan ketiga filosof ini saja telah memperlihatkan bahwa di dalam filsafat terdapat lebih dari satu kebenaran tentang satu persoalan. Sebabnya ialah bukti kebenaran teori dalam filsafat terletak pada logis atau tidaknya argumen yang digunakan,bukan terletak pada kongklusi. Disini sudah terlihat bibit ralativisme yang kelak dikembangkan dalam filsafat sofisme.
3.         Anaximenes (588-524) menyimpulkan bahwa asal mula sesuatu adalah udar, karena udara adalah unsur vital kehidupan.
4.         Pythagoras (580-500SM) mengatakan bahwa asas mula sesuatu dapat diterangkan atas dasar bilangan-bilangan.
5.         Herakleitos (540-475 SM) ungkapannya adalah panta rhei khai uden menei, semuanya mengalir dan tidak ada satupun yang tinggal mantap. Ia lah yang mengagetkan manusia awam mengenai perkataan yang dilontarkannya tatkala ia berkata bahwa sesungguhnya yang sungguh-sungguh ada ialah gerak dan perubahan dan paham relatifisme semakin mempunyai dasar setelah Heraclitus menyatakan engkau tidak dapat terjun ke sungai yang sama dua kali karena air sungai iu selalu mengalir. Menurut heraclitus alam semesta ini dalam keadaan berubah, suatu yang dingin berubah menjadi panas, yang panas berubah menjadi dingin. Itu berarti bila kita memahami kehidupan kosmos, kita mesti menyadari bahwa kosmos itu dinamis kosmos tidak pernah berhenti ia selalu bergerak dan bergerak berarti berubah , gerak itu menghasilkan perlawanan 2 itulah semesta ini bukan bahannya seperti yang dipertanyakan “semua mengalir” berarti semua berubah bukanlah pernyataan yang mengandung sederhana. Implikasi pernyataan ini amat hebat hebat. Pernyataan itu mengandung pengertian bahwa kebenaran itu selalu berubah, tidak tetap .
6.         Parmenides (540-475 SM) pandangannya bertolak belakang dengan Herakleitos. Ia menegaskan bahwa realitas itu tetap, tidak berubah. Gagasan pentingnya yaitu tentang “ada”. Yang ada itu ada dan yang tidak ada itu tidak ada. Herakleitos dan Parmenides menjadi cikal bakal debat metafisika. Herakleitos mewakili pluralism dan empirisme. Sedangkan Parmenides adalah wakil dar monism dan rasionalisme.
7.         Demokritos (460-370 SM), realitas itu terdiri dari banyak unsur yang disebutnya dengan atom. Pandangan Demokritos merupakan cikal bakal dari ilmu fisika, kimia, biologi.
8.         Socrates (470-399 SM), metode filsafatnya langsung dalam kehidupan sehari-hari. Metode filsafatnya yaitu dialektika (berckap-cakap). Socrates tidak menyampaikan pengetahuan, tetapi dengan mempertanyakannya, ia biasa membidani ilmu pengetahuan yang terdapat dalam jiwa orang lain. Ajaran bahwa semua kebenaran itu relative telah menggoyahkan teori-teori sains yang telah mapan,menggoncangkan keyakinan agam.Ini menyebabkan kebingungan dan kekacaun kehidupan.Socrates bangkit dan meyakinkan orang-orang Athena bahwa tidak semua kebenaran itu relative, ada kebenaran yang umum yang dapat di pegang oleh semua orang.Sayangnya Socrates tidak meninggalkan tulisan. Kita memperoleh ajarannya dari tulisan para muridnya,terutama plato. Kehidupan Socrates berada di tengah –tengah keruntuhan imperium Athena. Disekitarnya dasar-dasar lama hancur, kekuasaan jahat mengganti keadilan disertai munculnya penguasa-penguasa politik yang menjadi orang-orang yang sombong dibandingkan yang sebelumnya.Para pemuda Athena pada masa itu dipimpin oleh doktrin relativisme dari kaum sofis,sedangkan Socrates penganut moral yang absolute yang meyakini bahwa menegakkan moral merupakan tugas filofof yang berdasarkan ide-ide rasional dan keahlian dalam pengetahuan.
Filsafat adalah kebenaran obyektif,untuk membuktikan adanya kebenaran obyektif,Socrates menggunakan metode yang bersifat praktis,yaitu melalui percakapan-percakapan dan menganalisis pendapat-pendapat tentang salah dan tidak salah,adil dan tidak adil,berani dan pengecut ,dll.Socrates menganggap jawaban pertama sebagai hipotesa, dan dengan jawaban-jawaban lebih lanjut yang menarik konsekuensi-konsekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban-jawaban tersebut.Jika hipotesa pertama tidak dapat dipertahankan karena menghasilkan konsekuensi yang mustahil,maka diganti dengan hipotesa lain,lalu hipotesa kedua ini diselidiki dengan jawaban-jawaban lain dst. Sering terjadi percakapan Socrates menghasilkan kebingungan (aporia), akan tetapi tidak jarang dialog itu menghasilkan suatu definisi yang berguna.
Didalam tratatnya tentang metafisika, Aristoteles memberikan catatan mengenai metode Socrates ini. Ada dua penemuan itu berkenaan dengan pengetahuan,y aitu induksi dan definisi. Pertama,menggunakan istilah induksi, yaitu pemikiran yang bertolak dari pengetahuan khusus, lalu menyimpulkan yang umum. Kedua,menggunakan istilah definisi, yaitu mengupayakan sifat umum dengan menyebutkan ciri yang disetujui, kemudian menyisihkan ciri khusus yang tidak disetujui.
Orang sofis beranggapan bahwa semua pengetahuan adalah relatif kebenarannya,tidak ada pengetahuan yang bersifat umum. Dengan definisi itu Socrates dapat membuktikan kepada orang-orang sofis bahwa pengetahuan yang umum itu ada, yaitu definisi. Jadi,orang sofis tidak seluruhnya benar,y ang benar sebagian pengetahuan bersifat umum dan sebagian bersifat khusus, yang khusus itulah pengetahuan yang kebenarannya relative. Dengan mengajukan definisi itu Socrates telah dapat menghentikan laju dominasi relativisme kaum sofis,dan orang Athena mulai kembali memegang kaidah sains dan aqidah agama mereka.
Plato memperkokoh tesis Socrates itu.Ia mengatakan kebenaran umum itu memang ada. Ia bukan dicari dengan induksi seperti pada Socrates, melainkan telah ada di alam idea. Kubu Socrates semakin kuat, dan orang-orang sofis semakin kehabisan pengikut. Orang sofis kalap, lalu menuduh Socrates merusak mental pemuda dan menolak Tuhan. Sehingga Socrates diadili oleh muridnya,Plato,dibawah judul Apologia ( pembelaan ). Socrates dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati.
9.         Plato (428-348 SM), dia adalah murid Socrates. Plato dikenal dengan filsafat dualism. Ia mengakui adanya dua kenyataan yang terpisah dan berdiri sendiri. Dunia ide adalah dunia yang tetap dan abadi, didalamnya tidak ada perubahan, sedangkan dunia bayangan (inderawi) adalah dunia yang berubah, yang mencakup benda-benda jasmani yang disajikan kepada indera. Plato adalah salah satu dari filsuf besar Yunani yang hidup sekitar abad ke-4 SM yang gagasannya banyak dikembangkan oleh era filsafat maupun para pemikir selanjutnya, termasuk gagasan-gagasan keagamaan dikemudian hari yang juga menjadi perhatian Plato dibawah pengaruh Ofirisme Phytagoras. Sedikit banyak, setelah masa filosofis, Plato mentransformaiskan pemikirannya ke wilayah relijius dengan gagasannya tentang Idea dan Cinta atau Eros sebagaipendorong gerak untuk mencari hakikat dari kehidupan. Dalam buku Mohammad Hatta, “Alam Pikiran Yunani’, ia digambarkan sebagai orang paling bijak yang pernah dilahirkan sejak era Phytagoras dan sebelum Aristoteles dilahirkan. Setidaknya demikianlah yang diyakini oleh mereka yang mengenal benar pikiran Plato. Salah satunya yang kontroversial dan mengundang pertanyaan banyak orang dan para arkeolog adalah hipotesis metaforisnya tentang Atlantis sebagai Benua Yang Tenggelam, yang konon digambarkan Plato sebagai suatu pulau atau anak benua “Nesos” atau “Continent” dimana peradaban manusia masa kini berasal. Demikian tingginya peradaban manusia Atlantis sampai-sampai kesombongan hinggap pada para penduduknya dan dalam sekejap mata menurut taksiran para ahli purbakala yang berminat membuktikan keberadaan Benua Atlantis, benua itu lenyap ditelan tsunami yang sekarang disebut Atlantik. Jadi peristiwa lenyapnya Atlantis mirip dengan Gempa bawah Laut dan Tsunami yang menimpa Serambi Mekah pada tanggal 26-12-2004 yang lalu.
10.     Aristoteles (384-322 SM), ia merupakan murid Plato. Pola pemikiran Aristoteles ini merupakan perubahan yang radikal. Menurut Plato, realitas tertinggi adalah yang kita pikirkan dengan akal kita, sedang menurut Aristoteles realitas tertinggi adalah yang kita lihat dengan indera-mata kita. Aristoteles tidak menyangkal bahwa bahwa manusia memiliki akal yang sifatnya bawaan, dan bukan sekedar akal yang masuk dalam kesadarannya oleh pendengaran dan penglihatannya. Namun justru akal itulah yang merupakan ciri khas yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. Akal dan kesadaran manusia kosong sampai ia mengalami sesuatu. Karena itu, menurut Aristoteles, pada manusia tidak ada idea-bawaan.

B.       Zaman Abad Pertengahan
Pada zaman ini merupakan keemasan bagi kekristenan. Pada abad ini, perkembangan alam pikiran Eropa terkendala oleh keharusan untuk disesuaikan dengan ajaran agama. Pada zaman pertangahan, ada 2 “zaman” yang terjadi, yakni zaman kegelapan dan zaman pencerahan.
1)        Zaman Kegelapan (abad ke-12 dan 13 M)
Filsafat Barat abad pertengahan bisa dikatakan abad kegelapan, karena pihak gereja membatasi para filosof dalam berfikir, sehingga ilmu pengetahuan terhambat dan tidak bisa berkembang, karena semuanya diatur oleh doktirn-doktrin gereja yang berdasarkan kenyakinan. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dari keyakinan para gerejawan, maka filosof tersebut dianggap murtad dan akan dihukum berat sampai pada hukuman mati.

2)        Zaman Pencerahan (abad ke-15 M)
Zaman ini merupakan gerakan untuk menentang pola pemikiran zaman pertengahan yang dogmatis. Zaman Renaisans merupakan kelahiran kembali kebebaan manusia dalam berpikir. Renaisans adalah zaman atau gerakan yang didukung oleh cita-cita kembali manusia yang bebas. Manusia pada zaman ini berangsur-angsur melepaskan diri dari otoritas kekuasaan Gereja, yang selama ini telah mengungkung kebebasan dalam mengemukakan kebenaran dalam filsafat dan ilmu pengetahuan. Tokoh pemikir pada zaman renaisans adalah:
a)        Nicolaus Copernicus (1473-1543), ia mengemukakan bahwa matahari berada di pusat jagad raya, dan bumi memiliki dua macam gerak, yaitu berputar pada porosnya, dan berputar mengililingi matahari. Teori ini disebut heliosentrisme, dimana matahari sebagai pusat jagad raya, bukan bumi seperti yang di ungkapkan Ptolomeus, yaitu bumi sebagai pusat jagad raya.
b)        Francis Bacon (1561-1626), Bacon adalah pemikir yang seolah-olah meloncat keluar dari zamannya dengan menjadi perintis filsafat ilmu pengetahuan. Ungkapan Bacon yang terkenal adalah knowledge is power, pengetahuan adalah kekuasaan.

C.       Zaman Abad Modern
Lahirnya filsafat modern ini didahului oleh zaman renaisans yang lalu dimatangkan oleh gerakan Aufklaerung di abad 18. Ada dua hal penting yang ada di dalamnya yaitu:
1.  Kekuasaan Gereja semakin berkurang
2.  Kekuasaan ilmu pengetahuan semakin bertambah.
Pengaruh zaman renaisans dan Aufklaerung menyebabkan peradaban dan kebudayaan barat modern berkembang pesat, terbebas dari pengaruh-pengaruh dogma gereja.
a)         Rasionalisme
Semakin lama manusia menaruh kepercayaan besar terhadap kemampuan akal, sehingga tampaklah adanya keyakinan bahwa dengan keyakinan itu pasti dpat diterangkan berbagai macam persoalan, dan dapat dipecahkannya segala macam masalah kemanusiaan. Aliran filsafat rasionalisme berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang memadai dan dapat dipercaya adalah akal.
·      Rene Descartes (1598-1650) melalui metodenya dengan meragukan segala peryataan kecuali pada satu pernyataan saja, yaitu bahwa ia sedang melakukan keragu-raguan itu sendiri. Ia menegaskan bahwa ia dapat merguakn segala hal, namun satu hal yang tidak mungkin diragukan adalah kegiatan meragukan kegiatan itu sendiri. Maka ia sampai kebenaran yang tak terbantahkan, yakni: Saya berpikir, jadi saya ada (cogito a.ergo sum).
b)        Empirisme
Aliran ini bertolak belakang dengan aliran rasionalisme. Bagi penganut empirisme, sumber pengetahuan yang memadai itu adalah pengalaman, pengalaman yang menyangkut dunia dan pengalaman batin yang menyangkut pribadi manusia. Penganut empirisme berkeyakinan bahwa manusia tidak memiliki ide-ide bawaan. Aliran empirisme dipelopori oleh Francis Bacon abad 15. Melalui metode eksperimen dalam metode penelitian dan penyelidikan. Menurut Bacon, manusia melalui pengalamannya dapat mengetahui benda-benda dan hukum-hukum relasi antara benda-benda. Thomas Hobbes juga meyakini bahwa pengenalan atau pengetahuan itu diperoleh dari pengalaman. Berbeda dari pendahulunya, John Locke lebih terdorong untuk mengemukakan tentang asal mula gagasan manusia, kemudian menentukan fakta-fakta, menguji kepastian pengetahuan dan memeriksa batas-batas pengetahuan manusia.
·      David Hume (1611-1776), Ia adalah pengembang aliran empirisme, ia menegaskan bahwa sumber satu-satunya untuk memperoleh pengetahuan adalah pengalaman, ia menentang kaum rasionalis. Pemikiran Hume bersifat analitis, kritis, dan skeptis. Ia berpangkal dari suatu keyakinan bahwa hanya kesan-kesanlah yang pasti, jel;as dan tidak dapat diragukan.
c)         Kritisme
Tokoh yang berada dalam aliran ini adalah Immanuel Kant (1724-1804). Kritisme adalah sebuah teori pengetahuan yang berusaha untuk mempersatukan kedua macam unsur dalam filsafat rasionalisme dan empirisme dalam suatu hubungan yang seimbang, yang satu tidak terpisah dari yang lain. Menurut Kant, pengetahuan meruapakan hasil terakhir diperoleh dengan adanya dua kerjasama diantara dua komponen pengalaman inderawi, dan dilain pihak cara mengolah  kesan-kesan yang bersangkutan sedemikian rupa terdapat suatu hubungan antar sebab dan akibatnya. Kant mencoba untuk menyatukan antara kaum rasionalisme dan empirisme. Pengetahuan rasional adalh pengetahuan analitis apriori, disini predikat sudah termuat dalam subyek. Pengetahuan empiris adlah pengetahuan yang sintetis aposteriori, disini predikat dihubungkan dengan subyek yang berdasarkan  pengalaman inderawi.
d)        Idealisme
Para pengikut aliran idealisme pada umumnya filsafatnya bersumber dari Kant. Murid Kant yang bernama Fichte merupakan penganut idealisme subyektif yang merupakan murid Kant. Selain itu juga ada Scelling yang merupakan penganut filsafat dengan idealisme objektif. Kedua idealisme tersebut itu nkemudian disintesiskan oleh filsafat Hegel dalam filsafat idealisme mutlak.
Menurut Hegel, hukum-hukum pikiran merupakan hukum-hukum realitas. Sejarah adalh zat yang mutlak itu menjelma dalam waktu dan pengalaman manusia. Oleh karena alam itu satu, dan bersifat mempunyai maksud serta berpikir, maka alam itu berwatak pikiran. Jika kita memikirkan keseluruhan tata tertib yang menyangkut in-organik, organik, tahap-tahap keberadaan spiritual dalam suatu tata tertib yang mencakup segala-galanya. Pada saat itulah kita membicarakantentang yang mutlak. Jiwa yang mutlak atau Tuhan. Hegel tidak mengingkari adanya realitas luar atau realitas objektif. Hegel percaya bahwa sikapnya adalah satu-satunya yang bersifat adil kepada segi objektif pengalaman.
e)         Positivisme
Aguste Comte(1798-1857) adalah tokoh dan pendiri filsafat positivisme. Filsafat Comte anti metafisis, ia hanya menerima fakta-fakta yang ditentukan secara positif ilmiah. Comte mempunyai filsafat yang penting yaitu pencipta ilmu sosiologi.

f)         Marxisme
Karl Marx (1818-1883) merupakan pendiri filsafat ini. Filsafat Marx merupakan sintesis antara metode dialektika Hegel dan Filsafat materialisme Feurbach. Marx mengkritik Hegel yang menurutnya berjalan diatas kepalanya, oleh karena itu harus diputarbalikkan. Filsafat abstrak harus ditinggalkan, karena teori, interpretasi, spekulasi dan sebagainya tidak menghasilkan perubahan dalam masyarakat. Para filosof menurut Marx hanya sekedar menafsirkan dunia dengan berbagai cara, namun yang terpenting adalah mengubahnya. Hal yang perlu diubah itu adalah masyarakat yang tertindas oleh kaum borjuis dan kapitalis yang menghisap kaum proletar.
D.      Zaman Abad Kontemporer
Filsafat Barat kontemporer (abad XX) sangat heterogen. Hal ini disebabkan antara lain karena profesionalisme yang semakin besar. Banyak filsuf adalah spesialis bidang khusus seperti matematika, fisika, psikologi, sosiologi, atau ekonomi. Hal penting yang patut dicatat adalah bahwa pada abad XX pemikiran-pemikiran lama dihidupkan kembali. Misalnya, Neotomisme, Neokantianisme, Neopositivisme, dan sebagainya. Di masa ini Prancis, Inggris, dan Jerman tetap merupakan negara-negara yang paling depan dalam filsafat. Umumnya, orang membagikan filsafat pada periode ini menjadi filsafat kontrental (Prancis dan Jerman); dan filsafat Anglosakson (Inggris). Aliran-aliran terpenting yang berkembang dan berpengaruh pada abad XX adalah pragmatisme, vitalisme, fenomenologi, eksistensialisme, filsafat analitis (filsafat bahasa), strukturalisme, dan postmodernisme.
·         Pragmatisme mengajarkan bahwa yang benar adalah apa yang akibat-akibatnya bermanfat secara praktis. Jadi, patokan pragmatisme adalah manfaat bagi kehidupan praktis. Kebenaran mistis diterima, asal bermanfaat praktis. Tokoh-tokohnya yang terpenting adalah William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952).
·         Vitalisme berpandangan bahwa kegiatan organisme hidup digerakkan oleh daya atau prinsip vital yang berbeda dengan daya-daya fisik, di mana segala sesuatu dapat dianalisa secara matematis. Tokoh terpenting vitalisme adalah filsuf Prancis, Henri Bergson (1859-1941).
·         Fenomenologi berarti gejala atau apa yang tampak. Jadi, fenomenologi adalah aliran yang membicarakan fenomena atau segalanya sejauh mereka tampak. Fenomenologi dirintis oleh Edmund Husserl (1859-1938). Seorang fenomenolog lainnya adalah Max Scheler (1874-1928).
·         Eksistensialismei adalah aliran filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal pada eksistensi. Eksistensi adalah cara berada di dunia. Cara berada manusia di dunia berbeda dengan cara berada makluk-makluk lain. Tokoh-tokoh terpenting eksistensialisme adalah Martin Heidegger (1883-1976), Jean-Paul Sartre (1905-1980), Karl Jaspers (1883-1969), dan Gabriel Marcel (1889-1973). Soren Kierkegaard (1813-1855), Friedrich Nietzsche (1844-1900) serta Nicolas Alexandroyitch Berdyaev (1874-1948). Jean-Paul Sartre adalah filsul kontemporer berpendapat bahwa manusia itu bebas atau sama sekali tidak bebas.
·         Filsafat analitis muncul di Inggris dan Amerika Serikatv sejak sekitar tahun 1950. Filsafat analitis disebut juga filsafat bahasa. Filsafat bahasa adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hahekat bahasa, sebab, asal dan hukumnya. Filsafat ini merupakan reaksi terhadap idéalisme, khususnya Neohegelianisme di Inggris.Para penganutnya menyibukkan diri dengan analisa bahasa dan konsep-konsep. Memang ahli filsafat sependapat bahwa hubungan bahasa dengan filsafat sangat erat bahkan tidak dapat dipisahkan terutama dalam pengertian pokok bahwa tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep dank arena konsep tersebut terungkapkan melalui bahasa. Tokoh-tokohnya yang terpenting adalah Bertrand Rüssel, Ludwig Wittgenstein (1889-1951), Gilbert Ryle, dan John Langshaw Austin.
·         Strukturalisme muncul di Prancis tahun 1960, dan dikenal pula dalam linguistik, psikiatri, dan sosiologi. Strukturalisme pada dasarnya menegaskan bahwa masyarakat dan kebudayaan memiliki struktur yang sama dan tetap. Tokoh-tokohnya Levi Strauss, Jacques Lacan, dan Michel Foucoult.
·         Aliran postmodernisme muncul sebagai reaksi terhadap modernisme dengan segala dampaknya. Seperti diketahui, modernisme dimulai oleh Rene Descartes, dikokohkan oleh zaman pencerahan (Auflclaerung), dan kemudian mengabadikan diri melalui dominasi sains dan kapitalisme. Tokoh yang dianggap memperkenalkan istilah postmodern (isme) adalah Francois Lyotard, lewat bukunya The Postmodern Condition: A Report on Knowledge (1984). Modernisme mempunyai gambaran dunia sendiri yang ternyata melahirkan berbagai dampak buruk, yakni Pertama, obyektifikasi alam secara berlebihan dan pengurasan alam semena-mena yang mengakibatkan krisis ekologi.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Ditinjau dari sudut sejarah, filsafat memiliki empat periodisasi. Periodisasi ini didasarkan atas corak pemikiran yang dominan pada waktu itu. Pertama, adalah zaman Yunani Kuno, ciri yang menonjol dari filsafat Yunani kuno adalah ditujukannya perhatian terutama pada pengamatan gejala kosmik dan fisik sebagai ikhtiar guna menemukan asal mula (arche) yang merupakan unsur awal terjadinya gejala-gejala. Para filosof pada masa ini mempertanyakan asal usul alam semesta dan jagad raya, sehingga ciri pemikiran filsafat pada zaman ini disebut kosmosentris. Kedua, adalah zaman Abad Pertengahan, ciri pemikiran filsafat pada zaman ini di sebut teosentris. Para filosof pada masa ini memakai pemikiran filsafat untuk memperkuat dogma-dogma agama Kristiani, akibatnya perkembangan alam pemikiran Eropa pada abad pertengahan sangat terkendala oleh keharusan untuk disesuaikan dengan ajaran agama, sehingga pemikiran filsafat terlalu seragam bahkan dipandang seakan-akan tidak penting bagi sejarah pemikiran filsafat sebenarnya. Ketiga, adalah zaman Abad Modern, para filosof zaman ini menjadikan manusia sebagai pusat analisis filsafat, maka corak filsafat zaman ini lazim disebut antroposentris. Filsafat Barat modern dengan demikian memiliki corak yang berbeda dengan filsafat Abad Pertengahan. Letak perbedaan itu terutama pada otoritas kekuasaan politik dan ilmu pengetahuan. Jika pada Abad Pertengahan otoritas kekuasaan mutlak dipegang oleh Gereja dengan dogma-dogmanya, maka pada zaman Modern otoritas kekuasaan itu terletak pada kemampuan akal manusia itu sendiri. Manusia pada zaman modern tidak mau diikat oleh kekuasaan manapun, kecuali oleh kekuasaan yang ada pada dirinya sendiri yaitu akal. Kekuasaan yang mengikat itu adalah agama dengan gerejanya serta Raja dengan kekuasaan politiknya yang bersifat absolut. Keempat, adalah Abad Kontemporer dengan ciri pokok pemikiran logosentris, artinya teks menjadi tema sentral diskusi filsafat.



Apa dan Bagaimaa Filsafat???


Refleksi Filsafat Pendidikan Matematika #Pertemuan 1 
by: Fitria Yelni
Apa dan Bagaimana Filsafat?
Pertama kali mendengar kata “filsafat”, mungkin sebagian besar orang akan langsung terkejut dan mendelik ngeri. Yap, selama ini filsafat identik dengan hal-hal yang abstrak, bahasa tingkat tinggi dan membingungkan. Namun banyak hal yang ternyata belum kita tahu tentang filsafat. Maka dari itu, kita perlu mengenal dan membangun ilmu filsafat itu mulai dari diri kita sendiri. Filsafat adalah olah pikir yang refleksif. Olah pikir mengenai apa? Jawabannya adalah apapun yang dapat dipikirkan. Mengapa harus filsafat? Meniru terminologi dunia, kata dunia dapat diletakkan di depan kata apapun dan berarti sangat luas. Misalnya, dunia mahasiswa, dunia orangtua, dunia bisnis, dunia politik, dunia remaja, dan masih banyak lagi dunia-dunia yang bisa dibangun. Filsafat adalah ilmu yang multifase. Filsafat bisa menjadi sangat ringat atau sangat berat. Filsafat bisa pula menghibur atau bahkan berbahaya. Tentunya agar filsafat menjadi ringan, menghibur dan manfaat, ada aturan-aturan atau adab-adab yang harus diperhatikan.
Adapun adab dalam berfilsafat adalah sebagai berikut.
1.    Filsafat itu letaknya tinggi.
Setinggi-tingginya seseorang dalam berfilsafat, tidak boleh melebihi spiritual. Setinggi-tingginya seseorang dalam berolah pikir, tidak boleh melebihi keyakinan. Oleh sebab itu, sebelum mempelajari filsafat disarankan untuk berdo’a terlebih dahulu untuk memohon petunjuk kepada Tuhan. Karena sifatnya yang tinggi itu, maka akibat atau efek yang dapat ditimbulkan oleh filsafat ini cukup besar, terlebih untuk hal-hal yang sifatnya krusial seperti politik, keyakinan dan sebagainya. Tak jarang, filsafat atau olah pikir ini justru akan mengubah mindset atau membelokkan keyakinan kita. Dasar spiritual yang dimaksud dalam berfilsafat itu, ibarat 1 langkah berfilsafat, maka setelah itu harus mengambil 2 langkah berdoa, sekali melangkah, dua kali berdo’a, begitu seterusnya. Begitulah kedudukan berfilsafat dikaitkan dengan spiritual atau keyakinan.
Pada suatu hari dalam kunjungannya ke Indonesia -tepatnya saat memberikan kuliah umum di UNY- seorang matematikawan hebat dari Michigan University, Prof.Don berbincang dengan Pak Marsigit, seorang dosen matematika UNY. Percakapan yang terjadi antara keduanya kurang lebih seperti berikut.
Prof. Don     : Apa hubungannya berdoa dan Matematika?
Pak Marsigit : Kenapa?
Prof. Don     : Mengapa ketika engkau mengajar selalu diawali dengan berdo’a dan diakhiri dengan berdo’a? Apa hubungannya dengan Matematika?
Pak Marsigit : Kamu tidak percaya dengan Tuhan?
Prof. Don     : Tidak. Karena aku tidak mengerti.
Pak Marsigit : Untuk bertemu Tuhan, tidak cukup hanya dipikirkan karena Tuhan itu lewat hati, lewat keyakinan. Jika ingin bertemu Tuhan dengan pikiran, maka tidak akan pernah bertemu.
 Dari percakapan di atas, tersirat bagaimana bahayanya belajar filsafat yang tidak dilandasi dengan spiritual.
2.    Filsafat itu hidup.
Oleh karena filsafat itu hidup,  maka cara mempelajarinya adalah dengan menggunakan metode hidup. Bagaimana cara mengetahui metode hidup? Pergilah keluar. Catat, bagaimana Tuhan dapat menciptakan, mengatur dan menghidupkan manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, bahkan alam semesta beserta isinya. Jika yang digunakan adalah metode hidup, maka metode ini akan berlandaskan dan berbasis pada hidup dan kehidupan. Jika dalam hidup terdapat hidup sehat dan hidup tidak sehat serta hidup bahagia dan hidup susah, maka demikian juga dalam filsafat, ada filsafat sehat dan tidak sehat serta filsafat bahagia dan filsafat susah.
Sesuai dengan namanya, hidup yang sehat adalah hidup yang beradab. Maka, berfilsafat yang sehat adalah berfilsafat yang beradab. Bagaimana berfilsafat yang sehat itu? Berfilsafat yang sehat adalah berfilsafat dengan berusaha mengenal tata cara dan sopan santun. Adapun contoh filsafat yang tidak sehat misalnya seperti tergesa-gesa, terpaksa, memaksa, sakit, hilang tanpa pemberitahuan, dan lain sebagainya.
3.    Bahasa yang dipakai untuk berfilsafat itu adalah bahasa analog.
Dalam berfilsafat digunakan bahasa analog, yakni bahasa yang lebih tinggi kedudukannya daripada sekedar kiasan. Contoh bahasa kiasan misalnya “si anu tadi hampir jatuh”. Dalam kalimat tersebut, “anu” dapat disebut sebagai kiasan. Adapun contoh bahasa analog yang dapat dipakai dalam berfilsafat misalnya “hati” dapat dipakai untuk menyebutkan keyakinan, spiritual, agama, dan ketuhanan. Kata “pikiran” dapat dipakai untuk menyatakan urusan manusia, urusan dunia atau urusan yang tampak.
4.    Objek berfilsafat adalah apa yang ada dan mungkin ada.
Objek yang ada adalah segala sesuatu atau hal yang bisa dilihat, bisa didengar dan dapat dipikirkan. Selain itu, hal yang ada adalah sesuatu yang sudah diketahui. Sedangkan hal yang mungkin ada adalah segala sesuatu atau hal yang belum diketahui, jadi statusnya bisa ada bisa tidak ada. Kita ambil contoh sederhana mengenai seseorang yang belum kita ketahui namanya. Di awal, nama orang tersebut adalah sesuatu yang mungkin ada, karena statusnya bisa ada dan bisa tidak ada karena keberadaannya belum ada di dalam pikiran kita. Namun setelah kita berkenalan dan mengetahui namanya, maka nama orang tersebut menjadi ada di dalam pikiran kita. Ini pulalah yang terdapat dalam filsafat. Segala hal yang ada bahkan mungkin ada dapat dijadikan objek dalam berfilsafat.
5.    Dalam mempelajari filsafat harus berpikiran jernih.
Orang yang mempelajari filsafat harus membersihkan diri dari pikiran-pikiran yang mengganggu. Pikiran-pikiran menggganggu yang seperti apa? Pikiran yang mengganggu seperti mengantuk, tidak fokus, terbebani rasa sakit, bersedih, dan lain sebagainya. Hal ini dimaksudkan agar dapat mengutamakan kejernihan memandang kedudukan filsafat.
Filsafat yang merupakan olah pikir yang refleksif tentunya memiliki referensi. Jika kedudukannya dinaikkan lagi, maka ada spiritual yang memiliki kitab suci. Jika kedudukannya diturunkan, ada ilmu bidang-ilmu bidang yang memiliki buku pintar. Jika kedudukannya diturunkan lagi, akan ada kegiatan-kegiatan yang memiliki petunjuk teknis.
Berbicara mengenai filsafat, sama halnya berbicara mengenai terjemah dan menterjemahkan, atau dalam bahasa Yunani disebut hermenetika. Terjemah dan menerjemahkan dalam filsafat artinya berinteraksi yang refleksif. Setiap hal yang ada di dunia ini saling berinteraksi satu sama lainnya. Manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, material, lingkungan, bahkan batu pun saling berinteraksi dengan lingkungan.
Telah disebutkan sebelumnya bahwa filsafat itu menggunakan metode hidup. Oleh karena hidup yang baik itu adalah hidup yang sehat, maka filsafat yang baik adalah filsafat yang sehat. Hidup yang sehat adalah hidup yang mengerti aturan atau adab. Bagaimana adab hidup yang sehat? Hidup yang sehat adalah hidup yang harmoni, yakni hidup yang seimbang antara unsur-unsurnya. Hidup yang bahagia memang identik dengan hidup yang harmoni dan seimbang. Hidup yang bahagia itu sendiri merupakan hidup seimbang antara sumbu ikhtiar, sumbu usaha dan sumbu keikhlasan. Dengan kata lain, hidup bahagia yang dimaksud adalah keikhlasan menerima di dalam ikhtiar yang mengerti aturan-aturan dalam kerangka spiritual. Tidak cukup hidup yang hanya memikirkan kepentingan dunia saja. Melainkan juga mengerti akan pentingnya mencapai kebahagiaan akhirat. Jadi, antara dunia dan akhirat juga harus seimbang.
Pertanyaan:
1.    Bagaimana pikiran (mindset) yang lemah memberikan pengaruh cenderung mengarah pada doa yang ragu-ragu dan tindakan yang alakadarnya?
2.    Dan bagaimana membangun pikiran yang kuat sementara setiap orang diciptakan unik dan berbeda dengan mindset yang berbeda-beda pula.