Sunday, October 2, 2011

~~~~ 너무 촣아해요....
Tadi malam abis foodventure bareng Ulil dan Piya ke International Family Restaurant “Dae Jang Geum (대장금)”. Milih tempat ini juga berkat rekomendasi dari Avi (고마워 친구 ^^). Lokasinya di Jalan Palagan Tentara Pelajar KM.8,5 Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Kesan pertama yang kepikir begitu sampai di tempat parkir : ”duh,,yang datang pake mobil semua nih,,jangan-jangan mahal a’uzubillah..”. Berbekal nekat dan khusnudzon, akhirnya masuklah  kita ke dalem. Begitu masuk, kita disambut ramah sama mbak-mbak waitress nya yang pada pake baju pelayan kerajaan Korea yang kayak dipake sama Jang Geum di drama Jewel in the Palacegitu. Wa...yeppeuda... 
Konsep yang diusung tempat makan ini cukup menarik juga. Setelah disambut sama mbak waitress di pintu masuk, di sebelah kanan ada sebuah ruangan yang isinya barang-barang asli dari Korea, mulai dari baju tradisional Hanbok (ada Hanbok buat adek kecil juga loo), anting-anting, macem-macem jenis piring dan mangkok, gantungan kunci, patung, sumpit, sampai sepatu, yang lengkap dengan price tag dengan mata uang won. O iya, barang-barang disini boleh dibeli juga ternyata. Tapi harap maklum, harganya mengagumkan Bu (ya iyalah..barang impor). Maju lagi, kita memasuki ruangan besar dengan meja-kursi tertata rapi lengkap dengan TV gede yang lagi nyetel chanel KBS World. Di samping TV ada panggung tempat nyanyi buat mbak penyanyi. Tetapi eh tetapi, lagu yang dinyanyi in mah lagu-lagu jaman baheula (suasana koreanya langsung nge-drop). Karena kita pengen suasana outdoor, dituntunlah kita ke gazebo di selatan ruang indoor tadi. Well, kesannya romantis gitu,hehe. Sampingan sama mas-mas Korea gitu..
Saatnya pilih menuu... wah,, ternyata gak cuma makanan  Korea, ada juga masakan Jepang dan Indonesia (meskipun cuma Sate dan Nasi goreng). Kalo dibanding-bandingin, harga rata-rata untuk masakan Jepang terbilang lebih tinggi ketimbang Korea. Mungkin karena bahan bakunya juga lebih mahal kali ya. Tapi, kapan-kapan pengen juga nyobain Sushi sama Shabu-Shabu nya.
Ada welcome dishes kripik singkong dan kimchi.

Beverage yang kita pesen ada melon juice, lemon tea, sama  mixed squashes (kombinasi dari lime, lemon sama orange).

O iya,, ada rice wine juga yang no alcohol. Sumpah, rasanya muasemm sangaattt dan bau tapenya kuatt. Pesen yang ukuran 100cc buat bertiga aja nggak abis bo..

Next, lanjut ke main course. Pertama jjajangmyon (차장면). Itu loh, mie yang sering di makan kalo di drama-drama korea, udah gitu makannya slalu pake belepotan. Nah, yang ini kita makannya agak anggun an dikit laa... Seporsi jjajangmyon isinya lumayan banyak. Mie nya gede dan kenyal. Trus warnanya cokelat banget. Di atasnya ada bawang bombai yang dimasak apaa gitu sampai warnanya hitam. Trus disajiin sama sejenis pasta warna hitam (yang rasanya kayak petis). Hmm...마싰 어요...
The second choice is Bibimbap (비빔밥). Yah, nasi campurnya korea gitu. Isinya nasi putih, tauge, wortel, sayuran hijau, daging giling, jamur dan telor yang ditaruh di atas bibimbap tanpa dimasak terlebih dahulu. Trus disajiin dengan saus pedas dan kuah yang ada putih telur dan irisan daun bawangnya.

Next, ttoppoki (떠뻑기). Kalo di Indonesia sih, kayak cilok gituu... cuman bentuknya silinder. Disajiinnya pake saus merah merona yang ada efek pedesnya dikit. Ttoppoki tuh di korea jadi jajanan segala kalangan gitu.. Kalo di film-film korea tuh biasanya yang dijual di pinggir jalan gitu..

The last, eojinggo bogeum (어징고 보금). Cumi masak pedas. Ini juaranya. Gak cuma cumi, isinya ada kubis, wortel, bawang bombay, dan cabe merah-ijo iris. 촣아해...

 
Oiya, nunggu masakan-masakannya jadi pun gak lama kok, bahkan gak nyampe 10 menit. Udah gitu, dapet dessert juga, buah pepaya & semangka. Hmmm...

You wanna try?

Developing Mathematics Education in Indonesia


By Dr.Marsigit,MA
Reviewed by Fitria Yelni (http://fitrialikemath.blogspot.com)


Dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945, telah diamanatkan untuk meningkatkan kecerdasan bangsa dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan merupakan elemen penting dalam pembangunan bangsa ini. Adapun tujuan sistem pendidikan di Indonesia diantaranya (1)meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa; (2)mengembangkan kecerdasan dan keterampilan diri; (3)mengembangkan sikap positif akan kepercayaan diri dan pengembangan diri; (4)menjamin seluruh anak agar mengenyam pendidikan.

Paradigma yang terjadi pada praktik pengajaran di Indonesia adalah biasanya guru secara langsung dan panjang lebar menjelaskan dan memberi pertanyaan kepada seluruh kelas dan diikuti dengan siswa mengerjakan tugas yang diberikan dalam lembar jawab di tempat duduknya masing-masing. Terkesan kaku, monoton, tegang dan formal, bukan? Guru berfungsi sebagai figur utama dalam menentukan kegiatan dan melaksanakan instruksi yang telah dibuatnya, dan juga, siswa sangat jarang turut serta aktif dalam proses pembelajaran baik perorangan maupun dalam interaksi dengan siswa lain. Sebagian besar guru menghabiskan waktunya untuk menyampaikan informasi kepada siswa dan papan tulis hanya dijadikan sebagai alat bantu visual untuk menulis oleh guru ketimbang digunakan untuk menyajikan urutan berpikir logis dari beberapa gagasan yang dapat membangun pemahaman siswa. Menurut Peterson (1988), tantangan terbesar bagi pendidik pada dekade yang akan datang adalah meningkatkan kemampuan dan keterampilan belajar siswa dalam matematika; sebisa mungkin guru harus dapat melibatkan siswa agar secara aktif membangun pengetahuan mereka sendiri melalui pemahaman.

Saat ini, studi tentang pendidikan matematika dan sains telah mengindikasikan bahwa prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran matematika dan sains sangat rendah, hal ini tampak dari rendahnya nilai hasil Ujian Nasional dari tahun ke tahun baik di jenjang SD maupun SMP/SMA. Penguasaan konsep matematika dan sains serta keterampilan proses oleh siswa masih rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya (1)kurangnya aktivitas di laboratorium, (2)kurangnya guru yang menguasai pendekatan keterampilan proses dalam sains, (3)isi dari kurikulum matematika dan sains yang terlalu penuh, (4)banyaknya waktu yang terpakai untuk mengurusi syarat administrasi bagi guru, (5)masih belum memadainya peralatan laboratorium dan sumber daya manusianya. Studi juga menunjukkan bahwa terdapat ketidakcocokan antara tujuan pendidikan, kurikulum yang digunakan, dan sistem penilaian;  yang dapat teridentifikasi berdasarkan fakta: (1)Ujian Nasional hanya mengukur kemampuan kognitif siswa saja, (2)sistem UMPTN dianggap memicu para guru menerapkan pengajaran dengan berorientasi pada tujuan yang harus dicapai ketimbang berorientasi pada proses pengajaran matematika dan sains yang sesungguhnya. Kurang berhasilnya perubahan paradigma lama pendidikan menuju level yang lebih baik disebabkan oleh beberapa kendala yang cukup terbilang krusial, diantaranya kompleksitas lingkungan pendidikan, keterbataan anggaran, kurangnya sumber daya dan fasilitas pendidikan, divergensi dari konteks pendidikan seperti etnis, nilai budayadan letak geografi, kurangnya pemahaman guru tentang teori praktek mengajar yang baik dan penerapannya.  

Banyak hal yang sebenarnya dapat dilakukan guna meningkatkan pengajaran dan pembelajaran matematika dan sains oleh pendidik, diantaranya melalui kerjasama dengan lembaga pendidikan. Kerjasama antara lembaga pendidikan, seperti misalnya mencari model alternatif melalui referensi pengalaman pendidikan dari beberapa negara lain dapat memberi  beberapa manfaat dan kesempatan untuk: (a) mendiskusikan dan meningkatkan pelaksanaan kurikulum yang mencakup pengembangan buku teks, bahan ajar, metodologi mengajar, dan penilaian, (b) memperkaya pengalaman pendidik matematika dan sains, (c) meningkatkan kualitas pengajaran dan pembelajaran serta laboratoran (d) memecahkan masalah belajar mengajar matematika dan sains di sekolah, (e) merekomendasikan cara-cara untuk meningkatkan pendidikan matematika dan ilmu pengetahuan, dan (f) memenuhi harapan masyarakat mengenai praktik matematika dan pendidikan sains. Untuk mengatasi masalah-masalah di atas, tentu diperlukan suatu kegiatan sebagai jalan untuk bertukar pengalaman antara lembaga pendidikan sehingga dapat memperkaya pengetahuan guru mengenai pendidikan matematika yang seharusnya. Terdapat bermacam kegiatan yang dapat dilakukan guru, diantaranya adalah dengan melakukan seminar dan lokakarya, melakukan penelitian bersama, menerbitkan dan menyebarluaskan hasil bertukar pengalaman dan atau jurnal, serta membangun jaringan antar lembaga atau negara. Hal-hal yang penting dipertimbangkan dalam meningkatkan pendidikan adalah kemampuan rata-rata guru dan kualitas kelas yang relatif tinggi, desain kelas dan pengajaran yang tepat, lingkungan dan kondisi pendidikan yang homogen di seluruh negeri, guru yang rajin, menjunjung prinsip kesetaraan, tingginya tanggungjawab guru.

Pemanfaatan Video Tape Recorder (VTR) Untuk Pengembangan Matematika Realistik di SMP


By Dr.Marsigit,MA
Reviewed by Fitria Yelni (http://fitrialikemath.blogspot.com)

The Realistic Mathematics is emphasize for construction of the context of concrete objects as a starting point for students to getting  mathematical concepts. The concrete objects and objects in around us can be used as a context for learning mathematics in building the relevance of mathematics through social interaction. The concrete objects is manipulated by students in the framework to support the students’s efforts in the mathematical process from concrete mathematics to abstract mathematics. Students should be given opportunities to construct and produce mathematics in their own way and language.

There are two kinds of mathematical process : (1) the horizontal mathematical process and
(2) the vertical mathematical process. Horizontal mathematical process is a process from the real world into the mathematical symbols. The process occurs in students when they found the problem in the life / real situations. While a vertical mathematical process occur in the mathematical system itself, for example, discovery the strategy to solve the problem, to match the mathematical concepts and applying the formula or formulas findings.

From the side of teachers, it is about how  the teachers' efforts to obtain the idea about concrete objects and the objects around us that can used as a context for learning mathematics in making connections mathematics through social interaction. Assessment and analysis of learning mathematics that have been recorded into the video tape recorder (VTR) is one of the way or that can be do by the teacher. Through the VTR, the teachers hoped to be able to learn how to:
1.      make the preparation of  teaching and learning process in mathematics at junior high school in according to the principles of  Realistic Mathematics Education in Indonesia (RMEI)
2.      develop learning resources for teaching and learning process in mathematics at junior high school in according to the principles of  RMEI
3.      develop the assessment activities for teaching and learning process in mathematics at junior high school in according to the principles of  RMEI
4.      implement the teaching-learning process in mathematics at junior high school in according to the principles of  RMEI

VTR (Video Tape Recorder) for teacher education and reform movement in Mathematics Education, specifically for developing lesson study has some benefits as: a) short summary of the lesson with emphasis on the major problems in the lesson, b) components of the lesson and main events in the class, and, c) possible issues for discussion and reflection with teachers observing the lesson. By doing the observations and analysis the VTR on learning mathematics, which has recorded by the teacher who has implemented the learning of mathematics with a realistic approach, so the other teacher can try and find alternative way to develop the concepts or ideas about concrete objects and the object around us that can be used as a context for learning mathematics through the social interaction.

Pembudayaan Matematika di Sekolah Untuk Mencapai Keunggulan Bangsa


By Dr.Marsigit,MA
Reviewed by Fitria Yelni (http://fitrialikemath.blogspot.com)

Civilize mathematics in the school have an understanding aspects about the essence of mathematics, the essence of school mathematics, mathematics education essence, the value of mathematics essence, the essence of studying mathematics, the essence of mathematics teaching and learning process, and the essence of civilize school mathematics in the school. Generally, what we are talking about always associated with two matters: what is the object and what is the method?

Civilize of mathematics is an implication the awareness of the importance reflection activities through the study of mathematics and mathematics education  in various dimensions. Thus the civilize of mathematics meaning is how far we are be able to do the activities in a range of intentions, attitudes,  knowledge, skills and experience of mathematics, mathematics education and the learning of mathematics. Explicitly, civilize of  mathematics based on: (1) knowledge of mathematics in various dimensions, which include the essence, justification and occurrence, (2) mathematical objects at various  dimensions which include the essence and origin, (3) the use of formal mathematics  include its effectiveness in science, technology and the other, and (4) practices  mathematics in various dimensions more generally, including the activities of the  mathematicians or mathematics activities for elementary school students.

Civilize of mathematics in the school can begin from define the essence of school mathematics. Ebbutt and Straker, (1995) defines school mathematics as: (1) mathematics is an activity about patterns and the context, (2) mathematical activities need creativity, imagination, intuition and discovery, (3) activities and the results of mathematics should be communicated, (4) problem solving is the part of mathematical activities, (5) algorithm is a procedure to obtain the answers of mathematics problems, and (6) social interaction is needed in mathematical activities.

Civilize the learning of mathematics has implications for mathematics teacher as facilitator
as well as possible so that students can learn mathematics optimally. Mathematics
deemed not to be taught by the teacher but to be studied by students. Student
placed as the central point of learning mathematics. The teacher should be creating the atmosphere, provide the facilities of teaching and then the role of teacher as a manager. Learning is doing in a conducive and less formal atmosphere. The students do the various mathematics activities with different targets. Teachers have three main functions: as a facilitator, as a source of teaching and monitoring students' activities. Thus, the teachers can develop various learning method : lectures, discussions, giving assignments, seminars, etc. Study source or reference is the central point in the learning of mathematics. Variations in study source or reference is needed, including books, journals and access to the internet. Assessment conducted by assessment approach, a portfolio or autenthic assessment.

Mathematical communication includes communication of materials, formal communication, the communication of normative and spiritual communication. To learning mathematics, we should be define mathematics as school mathematics, but for mathematics in college, we define a formal mathematical or axiomatic. Civilize of mathematics can contribute to the nation through excellent innovation  mathematics learning continuously. In relation to obtaining the benefits the nation, we can think of mathematics, learning mathematics and mathematics education at different hierarchical levels or levels of intrinsic, extrinsic or systemic.

Thursday, September 15, 2011

The Effort to Increase the Student’s Motivation in Mathematics Learning with Some Teaching Aids in Junior High School 5 Wates, Kulon Progo, Yogyakarta, Indonesia

By Dr. Marsigit, MA and Ida Supadmi
Reviewed by Fitria Yelni (http://fitrialikemath.blogspot.com/)
Matematika masih menjadi momok bagi sebagian besar siswa. Berbagai alasan mulai dari menakutkan, membosankan, sulit, hingga gak nyambung dengan keseharian, sukses membuat Matematika menyandang predikat pelajaran paling dihindari oleh kebanyakan siswa. Hal ini terlihat dari rendahnya nilai Ujian Nasional tiap tahunnya dari target yang diharapkan, meskipun tidak menampik bahwa masih banyak pula siswa yang menyukai matematika dengan prestasi yang membanggakan.
Keberhasilan proses belajar mengajar matematika di sekolah dipengaruhi oleh peran guru sebagai informator, komunikator dan fasilitator. Metode belajar mengajar yang dilakukanpun sudah seharusnya dapat membangun interaksi berkesinambungan antara guru, siswa dan tujuan atau hasil pembelajaran yang diharapkan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa tentunya dengan membuat kegiatan belajar matematika menjadi menyenangkan, menarik dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Optimalisasi penggunaan sarana prasarana pembelajaran dapat membantu mempermudah proses berpikir abstrak untuk mengatasi kesulitan belajar siswa.
Perilaku siswa dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor internal dan eksternal. Begitu pula halnya dengan aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang dipengaruhi oleh kedua faktor tersebut. Sebagai faktor eksternal  untuk mendorong meningkatkan motivasi belajar matematika siswa, guru harus menunjukkan kreativitasnya dalam kegiatan belajar mengajar, baik itu menyampaikan materi, metode evaluasi dan kegiatan penunjang lain.
Dalam penelitian yang dilakukan, Penulis melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terhadap siswa kelas IIa SMP 5 Wates, Kulon Progo, pada caturwulan pertama tahun ajaran 2001/2002. Topik yang diajarkan guna menjalankan skema penelitian adalah (1)kuadrat dan akar kuadrat, (2)garis sejajar, dan (3)teorema Pythagoras.
Dalam mengajarkan topik kuadrat dan akar kuadrat, guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang terdiri atas 5 siswa setiap kelompok dan dipilih ketua dalam setiap kelompoknya. Sebelum permainan dimulai, guru memberikan sedikit penjelasan mengenai materi dengan menggunakan papan paku dan karet gelang. Selanjutnya, guru membagikan satu set kartu berisi soal-soal pada setiap kelompok dan ketua kelompok membagikan kartu soal tersebut bagi setiap anggota kelompok. Setelah setiap siswa selesai mengerjakan soal yang diberikan dalam lembar kerja masing-masing, guru menginstruksikan siswa untuk menukar lembar jawab dengan teman lain dalam kelompok dan guru  memberi kunci jawaban untuk saling mengoreksi jawaban yang diperoleh.  Siswa yang memperoleh skor tertinggi akan menjadi pemenang dalam permainan tersebut. Jika ada soal yang belum terpecahkan, maka kelompok akan membahas bersama. Apabila  masih belum terpecahkan, guru akan menuntun siswa dalam memecahkan persoalan tersebut.
Untuk topik garis sejajar, guru menggunakan peralatan yang terdiri dari papan berpaku, karet gelang, sepasang penggaris segitiga, kertas transparansi, lembar kerja siswa dan kertas tebal. Peralatan tersebut dipakai untuk menjelaskan permodelan matematis dan ilustrasi untuk mempermudah siswa memahami materi. Siswa juga diajak melakukan eksperimen menggunakan alat-alat tadi agar menemukan sendiri pengetahuan yang diperolehnya, mulai dari jenis-jenis hubungan antar sudut dalam garis sejajar, bagaimana besar sudut yang terbentuk, hingga membuktikan teorema yang terkait tentunya dengan cara yang menarik dan menyenangkan.
Sementara itu, untuk materi teorema Pythagoras, kegiatan belajar mengajar diadakan di luar ruang kelas. Untuk menunjukkan hubungan besar sudut dan panjang sisi dalam segitiga siku-siku, dipakailah kejadian yang ada di sekitar kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, sebuah tangga yang bersandar di dinding dan membentuk sebuh sudut siku-siku dengan tanah. Permodelan seperti ini akan lebih efektif digunakan dalam menjelaskan konsep teorema Pythagoras.
Dengan berbagai variasi, metode dan penggunaan peralatan ajar dalam proses belajar mengajar matematika, siswa akan menemukan sendiri pengetahuannya. Penyerapan materi pun akan semakin mudah terlebih dalam proses berpikir abstrak bagi siswa. Dengan demikian,matematika yang semula dirasa susah, menakutkan dan membosankan, akan menjadi menyenangkan, mudah dan mengasyikkan.

Pembelajaran Matematika Berbantuan Kalkulator: Studi Kasus Penggunaan Kalkulator Texas Instrument TI 89 pada PBM Matematika di SMK Muhammadiyah IV Yogyakarta

By Dr. Marsigit, MA and Retno Siswanto, S.Pd
Reviewed by Fitria Yelni (http://fitrialikemath.blogspot.com)
The using calculator in mathematics learning is an ordinary thing in this era for everyone in elementary school until university. So, many research shown and explain about the calculator. There are two types of calculator by its utility, common calculator and scientific calculator. The common calculator usualy used in daily life. The method of this calculator is by doing the aritmatic operation from the first that the given. Whereas the scientific calculator has the method by doing the aritmatic operation by use mathematics rule. The scientific calculator is used by high school students, teachers and university students to help a calculating function.
One of the scientific calculator type is the graphics calculator. It can be solve the mathematical problem quickly and show the answer by a graph. We can also make a program to be used for solve the mathematical problem. While this calculator is useful and sophisticated, many people inclined buy the common and the other scientific calculator than the grapgics calculator. Its because the price of graphics calculator more expensive than the other type.
The research was held in SMK Muhammadiyah IV Yogyakarta on February 2003 to get the describtion about the using calculator in mathematics teaching learning process. The reseacher gave  the introduction about using calculator before the research was held. The graphics calculator is used to solve the linear equations and non-equations.
There are four steps to using graphics calculator in mathematics teaching learning activity. First step is to understand the importance of graphics calculator. Second step is to understand the theory and how to use the calculator to solve the the questions about linear equations and non-equations. Next step is to input data of the question in to the calculator. It will be prosessed to change the mathematics language to become the language of calculator. The last step is to construe the output that appeared in the monitor and get the conclusion.
The obstacle of using grapics calculator is the students be in trouble to translate the mathematical sentences  in to the language of calculator. Also on other way, the students hard to explain the output of calculator in to the mathematical sentences.
By using the graphics calculator, mathematics teaching learning process in linear equations and non-equations topic will be more easier  and fun than before. If the using of calculator is not balanced by conseption the procedure of operation and mathematical thinking, so it will be caused the dependence, lost of student’s confident and indolent to think.